Sejarah
KOMUNIKASI
Sejak penghujung tahun 1960an, kalangan ilmu komunikasi telah berkembang suatu pendekatan dan spesialisasi khusus untuk keperluan pelaksanaan pembangunan dan dikenal dengan istilah Komunikasi Pembangunan. Hal ini dimulai oleh para jurnalis dengan menyebutnya sebagai Jurnalisme Pembangunan (Lent, 1977)[1] yang didasari pada kepentingan untuk memberitakan kegiatan yang mendukung pembangunan (development reporting).
Pada masa yang sama juga United Nation (PBB) memperkenalkan juga istilah Kuminikasi Penunjang Pembangunan (development support communication) selain itu juga di University of Philippine ditemukan juga istilah periklanan pembangunan atau “development advertising” yang kemudian meluas dan menjadi bagian dari komunikasi pembangunan[2].
Menurut Quebral (1986) konsep jurnalisme pembangunan, komunikasi penunjang pembangunan dan komunikasi pembangunan merupakan setali tiga uang yang berbeda hanya pada istilah namun substansinya tetap sama yaitu dihasikan dari pencarian bersama aka isi dan metode komunikasi yang lebih sesuai dengan keadaan masyarakat miskin yang berjuang menuju suatu kehidupan yang lebih baik[3].
Jurnalisme pembangunan adalah peran jurnalis dalam setiap usaha bangsa yang mengembangkan sumber-sumber ekonomi dan bukan hanya sekedar pencatat suatu kejadian ekonomi (Vittaci, 1969) [4], sedangkan komunikasi penunjang pembangunan yang lahir dari system dan program PBB terdiri dari penyadaran (sensitizing), pemberitahuan (informing), dan mendidik (educating) kelompok-kelompok sasaran dalam berbagai proyek pembangunan yang dilakukan PBB sesuai dengan tujuan proyek itu sendiri.
Setelah ada kesadaran yang luas pada pemerintahan dunia ketiga tentang kebutuhan akan promosi ideologi dan kampanye program pembangunan yang sedang mereka lakukan maka muncullah istilah komunikasi pembangunan tersebut.
PENGERTIAN
KOMUNIKASI PEMBANGUNAN
Berlo, 1960 menyebutkan komunikasi secara umum diartikan “sebagai suatu proses penyampaian pesan dari sumber ke penerima”. Schramm, 1977 juga menyebutkan bahwa komunikasi sebagai proses penggunaan pesan oleh dua orang atau lebih dimana semua pihak saling berganti peran sebagai pengirim dan penerima pesan sampai ada saling pemahaman atas pesan yang disampaikan oleh semua pihak[5].
Gunter Kieslich, 1970 mengemukakan bahwa komunikasi berasal dari bahasa latin “communicare” yang berarti berpartisipasi atau memberitahukan, sehingga pada hakekatnya komunikasi merupakan suatu proses interkasi social antara dua pihak atau lebih[6].
Pembangunan dalam istilah bahasa Indonesia dewasa ini semakin berkembang sebagai terjemahan dari berbagai bahasa asing sehingga terkadang mengandung kerancuan pengertian. Pembangunan dalam kehidupan sehari-hari dapat digunakansebagai terjemahan atau padanan istilah dari development, growth and change, modernization, atau bahkan juga progress. Pembangunan mencakup banyak makna baik fisik maupu non fisik, baik proses maupun tujuannya baik yang duniawi maupun rohaniah dan melekat pula pengertian-pengertian ekonomi, politik, social dan kebudayaan. Kesemua itu merujukpadasesuatu yang memiliki arah positif, lebih baik dan lebih bermanfaat bagi kehidupan manusia secara individual maupun masyarakatnya (Ismid Hadad, 1980)[7].
Slamet Riyadi, 1981 mendefinisikan pembangunan adalah suatu usaha atau proses perubahan demi tercapainya tingkat kesejahteraan atau mutu hidup suatu masyarakat (dan individu-individu didalamnya) yang berkehendak dan melaksanakan pembangunan itu[8].
Rogers, 1962 mengatakan bahwa komunikasi pembangunan yaitu proses penyampaian ide dari sumber kepada penerimanya dengan maksud untuk merubah perilaku. Biasanya sumber berkeinginan untuk mengganti pengetahuan tentang ide-ide yang telah dimiliki penerimanya, menciptakan dan merubah sikap terhadap ide-ide dan membujuknya untuk menerima ide-ide tersebut sebagai bagian dari perilaku yang teratur[9].
Astrid Susanto mengartikan bahwa komunikasi pembangunan sebagai proses yang mengajak mayarakat untuk berani dan mau meninggalkan sesuatu yang lama yang telah diketahui kebaikan dan keburukannya untuk menggantikannya dengan yang baru yang belum secara pasti diketahui kebaikan dan keburukannya[10].
Mardikanto, 1988 merumuskan bahwa komunikasi pembangunan proses interaksi seluruh warga masyarakat untuk tumbuhnya kesadaran, kemauan dan kemampuan mengeerakan dan mengembangkan partisipasi masyarakat dalam proses perubahan terencana demi perbaikan mutu hidup segenap warga masyarakat secara berkesinambungan dengan menggunakan teknologi atau menerapkan inovasi yang sudah terpilih[11].
Melkoe, 1991 menyebutkan bahwa komunikasi pembangunan bertujuan untuk meningkatkan mutu hidup masyarakat, termasuk perbaikan pendapatan dan tujuan-tujuan kehidupan yang lain, menghapuskan ketidak adilan social, mendorong reformasi lahan, kekebasan berbicara, dan memantaban pusat-pusat kegiatan masyarakat, dll[12].
Communication for Development didefenisikan sebagai perencanaan dan penggunaan komunikasi secara sistematis melalui inter-personal channels, information and communication technologies, audio-visual dan mass media yang berujuan untuk[13]:
1. Mengumpul dan menukar informasi antara semua orang yang peduli dalam perencanaan inisiatif pembangunan terhadap kesepakatan tujuan bersama untuk menyelesaikan masalah pembangunan
2. Memobilisasi warga untuk kegiatan pembangunan dan melibatkannya dalam pemecahan masalah dan kesalah pahaman
3. Meningkatkan keterampilan pendidikan dan kemampuan komunikasi dari actor pembagunan di berbagai tingkatan
4. Mempergunakan teknologi komunikasi untuk melatih dan melanjutkan program, terutama pada level akar rumput supaya bisa menigkatkan kualitas dan dampak pembangunan.
UNICEF[14] menyebutnya dengan Participatory Communication Development yang mendefenisikannya sebagai perencanaan kegiatan, yang pertama berbasis pada proses partisipatif dan yang kedua berbasis pada media dan interpersonal relation dengan memfasilitasi dialog antara berbagai stakeholder seputar masalah dan tujuan bersama melalui sasaran pembangunan dan pelaksanaan serangkaian kegiatan yang menjadi solusi masalah.
PENDEKATAN DALAM
KOMUNIKASI PEMBANGUNAN
Development communication[15] sebuah bidang ilmu dimulai pada awal 1960an dan pertama kali diterapkan untuk membangun nasionalisme, pembangunan pedesaan, penyuluhan pertanian, kesehatan dan sanitasi, dan juga keluarga berencana. Hal ini dilakukan terencana dan menggunakan proses komunikasi dan berbagai media untuk mendukung pembuatan kebijakan, partisipasi publik dan pelaksanaan proyek dan mencocokkannya dengan sosial, ekonomi, politik dan pembangunan ekologi. Dan kemudian teori Development communication ini menjadi bagian dari perkembangan teori extention work dan pada tahun 1980, secra resmi UNESCO menyebutnya sebagai development communication yang dimulai dari penegasan kebutuhan dua arah ilmu pengetahuan dan informasi yang ada diantara masyarakat dan teknokrat,nilai local ilmu pengetahuan, kearifan local dan promosi dan penghormatan budaya local daripada satu arah saja yang menstransfer ilmu pengetahuan[16].
Dalam pendekatan Communication for Development[17], penduduk pedesaan adalah menjadi bagian utama dari semua inisiatif pembangunan dan rencana mase depan, pengembangan tenaga kerja, pengambil kebijakan tingkat local, petani, dan penduduk pedesaan lainnya sebagai “communication equal”, persamaan perlakuan untuk pemahaman bersama dan perencanaan kegiatan. Communication for Development diidentifikasi dalam tiga pendekatan[18];
1) Behaviour communication (bertujuan untuk menguatkan individu dan juga masyarakat untuk busa melakukan pilihan-pilihan terhadap informasi.
2) Communication for social change (didasari pada partisipasi menguatkan ide-ide strategis untuk menguatkan dialog dan proses yang telah berlangsung.
3) Advocacy communication (mengorganissir setiap upaya koalisis dan membangun jaringan untuk mempengaruhi pengambilan pengambil kebijakan, persepsi public dan norma-norma social.
Pendekatan tersebut mengakibatkan evolusi pada “komunikasi perubahan social” yang meletakkan manusia dalam pengendalian makna dan isi dari komunikasi. Asumsi dasarnya adalah orang-orang mengetahui lebih baik realitas yang dihadapinya ketimbang “ahli” yang datang dari luar komunitas mereka. Karakteristik dasar dari “komunikasi perubahan social” adlah kepemilikan komunal dan partisipasi, bahsa dan hubungan budaya, penciptaan muatan local, penggunaan teknologi tepat guna untuk menemukan kebutuhan mereka yang bisa dimiliki dan dikendalikan oleh merkea sendiri dan belajar berbagi dengan kelompok lainyang memiliki perhatian yang sama[19].
Communication for Development digunakan untuk partisipasi dan mobilisasi masyarakat, pengambilan dan pelaksanaan rencana, membangun kepercayaan diri untuk peningkatan kesadaran, berbagi ilmu pengetahuan dan merubah sikap, perilaku dan gaya hidup, untuk[20];
1) peningkatan pembelajaran da pelatihan,
2) penyebaran informasi dengan cepat,
3) pelibatan perumusan dan perencanaan program,
4) membantu perkembangan dan mendukung pengambilan kebijakan.
Perubahan dunia yang cepat saat ini membutuhkan keberanian berpikir tentang bagaimana komunikasi dapat menyumbang dalam pembangunan dunia dan juga komunikasi membutuhkan pendekatan horizontal, cross-cutting sector, dan pegarus utamaan dalam pembangunan[21].
[1] Zulkarimen Nasution, Komunikasi Pembangunan Pengenalan Teori dan Penerapannya, Rajawali Pers, Jakarta 1998.
[2] Zulkarimen Nasution, Komunikasi Pembangunan Pengenalan Teori dan Penerapannya, Rajawali Pers, Jakarta 1998
[3] Zulkarimen Nasution, Komunikasi Pembangunan Pengenalan Teori dan Penerapannya, Rajawali Pers, Jakarta 1998
[4] Zulkarimen Nasution, Komunikasi Pembangunan Pengenalan Teori dan Penerapannya, Rajawali Pers, Jakarta 1998
[5] Mardikanto T. Sistem Penyuluhan Pembangunan, LPP UNS 2010
[6] Marikanto T. Komunikasi Pembangunan, LPP UNS 2010
[7] Marikanto T. Komunikasi Pembangunan, LPP UNS 2010
[8] Marikanto T. Komunikasi Pembangunan, LPP UNS 2010
[9] Marikanto T. Komunikasi Pembangunan, LPP UNS 2010
[10] Marikanto T. Komunikasi Pembangunan, LPP UNS 2010
[11] Marikanto T. Komunikasi Pembangunan, LPP UNS 2010
[12] Marikanto T. Komunikasi Pembangunan, LPP UNS 2010
[13] FAO United Nations, Frame Work on Effective Rural Communication for Development
[14] UNICEF, Communication Strategy Development Handbook
[15] Gtz, strategic communication for sustainable development, a conceptual overview
[16] UNDP, Communication for Development; Theoretical Framework-Oslo Governance Centre
[17] FAO United Nations, Frame Work on Effective Rural Communication for Development
[18] UNDP, The 8th Round Table on C4D,The MDGs as a Communication Tool for Development, 2007
[19] Gamucio-Dragon and Tuffe, 2006 pages XX and XXI dalam UNDP, Communication for Development; Theoretical Framework
[20] FAO United Nations, Frame Work on Effective Rural Communication for Development
[21] UNDP Communication for Development; Demonstrating Impact and Positioning Institutionally